Banjir Kembali Rendam Kendari, BEM FP-UHO Soroti Lemahnya Tata Ruang Kota

About Uncategorized

KENDARI, KABARALIWU.COM – Minggu (10/5/2026) – Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur Kota Kendari dalam beberapa hari terakhir kembali memicu banjir di sejumlah wilayah. Luapan Kali Wanggu menyebabkan ratusan rumah warga terendam dengan tinggi air mencapai sekitar 80 sentimeter.

Akibat banjir tersebut, ratusan warga terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman. Aktivitas masyarakat di beberapa titik terdampak juga dilaporkan lumpuh akibat genangan air yang menutup akses jalan dan permukiman.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), sedikitnya 317 warga terdampak banjir yang tersebar di kawasan sekitar aliran Kali Wanggu. Pemerintah setempat telah mendirikan tenda darurat dan menyalurkan bantuan logistik bagi masyarakat terdampak.

Meski demikian, banjir yang terus berulang setiap tahun kembali memunculkan sorotan terhadap sistem tata ruang dan pembangunan perkotaan di Kendari. Kabid Sosial dan Pengabdian Masyarakat BEM Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo (FP-UHO), Irfan Ahmad Syaikhan, menilai banjir tidak semata-mata disebabkan oleh curah hujan tinggi, tetapi juga dipengaruhi pembangunan kota yang kurang memperhatikan aspek lingkungan.

Menurut Irfan, alih fungsi lahan hijau menjadi kawasan permukiman dan bangunan beton telah mengurangi daerah resapan air di Kota Kendari. Di sisi lain, kapasitas drainase yang belum optimal membuat aliran air hujan tidak mampu tertampung saat hujan deras terjadi.

“Banjir di Kendari bukan hanya persoalan cuaca ekstrem, tetapi juga berkaitan dengan lemahnya perencanaan wilayah kota,” ujar Irfan Ahmad Syaikhan.

Ia menambahkan, pertumbuhan pembangunan yang berlangsung cepat tanpa pengendalian tata ruang yang baik berpotensi meningkatkan risiko bencana di kawasan perkotaan. Karena itu, pemerintah daerah dinilai perlu melakukan evaluasi terhadap izin pembangunan, khususnya di wilayah rawan banjir.

Selain penataan drainase dan normalisasi sungai, perlindungan ruang terbuka hijau juga dianggap penting untuk mengurangi risiko banjir di masa mendatang.
Masyarakat berharap pemerintah tidak hanya berfokus pada penanganan pasca-bencana, tetapi juga mulai membangun sistem tata kota yang lebih berkelanjutan. Tanpa langkah perbaikan yang menyeluruh, banjir diperkirakan akan terus menjadi ancaman tahunan bagi warga Kota Kendari.

Penulis: Nakril

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *